Sebagai upaya pemberantasan TB dengan target tahun 2030 bebas TB ,Kementrian Kesehatan memfasilitasi fasyankes terpilih (RS dan puskesmas se Indonesia dengan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).
Puskesmas Tempeh bersama Puskesmas Jatiroto tahun ini menjadi fasyankes terpilih di Kabupaten Lumajang dan mendapatkan pelatihan kompetensi yang diikuti tim TB antara lain dari unsur Kepala Puskesmas,dokter,pengelola program TB dan analis laboratorium di Holiday Inn Cikarang 22 s.d 25 Nopember 2022 . Alat TCM TB yang fungsikan diharapkan dapat memperluas jangkauan akses masyarakat terhadap kualitas diagnostik TB . Jika sebelumnya TB didiagnosa melalui mikroskopis spesimen dahak dengan menemukan bakteri tahan asam (BTA) pada pewarnaan,maka kini golden standart dari diagnosis TB wajib menggunakan TCM dengan mengidentifikasi genome Mycobacterium TB. Bila dengan pemeriksaan mikroskopik BTA bisa mendeteksi kuman jika ada setidaknya 10000 kuman /ml dahak maka dengan TCM jika terdapat 114 lfu/ml dahak ,maka sudah terdeteksi positif .
Dalam pembukaan acara pelatihan Dirjen P2PM menyatakan terjadi lonjakan kasus baru TB pada 2021 sebanyak 969.000 dan TB MDR sebanyak 28.000 kasus. Hal ini disebabkan selama pandemi notifikasi kasus TB menurun. Maka untuk mencapai target secara progresif dari 100 %terduga TB ,70%nya harus diperiksa TCM.
Tentu ini bukan hal yang ringan , mengingat alat TCM tergolong mahal dan catridge untuk memeriksa per spesimen juga mahal.
Artinya fasyankes harus bisa betul - betul memanfaatkan TCM yang ada dengan optimal agar minim eror dan utilisasinya optimal. Dinas kesehatan kabupaten /kota juga harus bisa membuat peta jejaring rujukan serta mendukung melalui program surveilance yang baik. (ima)